Kamis, 31 Oktober 2013

Pemilihan langsung hasilkan pemimpin daerah payah

MERDEKA.COM. Sejak awal reformasi, pemerintah membuka keran otonomi daerah seluas-luasnya. Tetapi hasilnya tidak memuaskan. Otonomi daerah digagas pada 1999 dinilai gagal menyejahterakan rakyat. Ratusan triliun duit rakyat hanya habis untuk pesta politik elite daerah.

Pemilihan kepala daerah secara langsung dianggap mendistorsi keberadaan otonomi daerah. "Hasil pilkada langsung itu tidak memberikan yang terbaik kepada rakyat. Akibatnya, kebijakan dibuat tidak langsung berdampak pada rakyat, hanya prioritasnya mereka (elite), kata salah satu penggagas otonomi daerah Ryaas Rasyid saat berbincang dengan merdeka.com di Menara Global, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Berikut petikan wawancara Alwan Ridha Ramdani dengan mantan menteri di era Abdurahman Wahid ini.

Kenapa otonomi daerah dan pemilihan kepala daerah langsung tidak bisa menyejahterakan masyarakat?

Dalam persepsi masyarakat, nasib mereka tergantung bagaimana pemerintah membuat kebijakan menyentuh mereka secara langsung, menciptakan suatu suasana memungkinkan mereka bisa berkembang sendiri, itu saja intinya. Ada kebijakan menyentuh mereka, ada suasana politik dan ekonomi tercipta di mana keinginan mereka ini tersalurkan.

Suasana itu belum terjadi selama otonomi daerah berlangsung?

Kalau ekonominya seperti ini tidak mampu menciptakan lapangan baru, infrastruktur lemah, politiknya hiruk pikuk, ya masyarakatnya frustasi.

Apakah ini tidak terjadi karena pemerintah daerah kemampuannya terbatas?

Bukan hanya pemerintah daerah, pemerintah secara keseluruhan. Pemerintah daerah itu terbatas kemampuannya. Pemerintah daerah paling membangun sektor-sektor tertentu dari anggaran tersedia. Soal keamanan tanggungannya polisi, kan begitu. Untuk harmononi sosial ini banyak yang bermain bukan hanya pemerintah daerah, unsur-unsur masyarakat, partai politik, dan segala macem.

Artinya harus ada kaji ulang otonomi daerah?

Jadi memang secara keseluruhan ini mesti dikaji. Cuma memang kalau anda kembali pada otonomi, faktor otonomi menentukan. Memang pimpinan daerah lagi payah. Hasil pilkada langsung itu tidak memberikan yang terbaik pada rakyat. Akibatnya, kebijakan dibuat tidak langsung berdampak kepada rakyat, hanya prioritasnya mereka.

Apa karena otonomi baru sekadar politik, untuk keuangan atau fiskal tidak?

Otonomi keuangan ada walau terbatas, disentralisasi fiskal ini ada kewenangan daerah untuk menciptakan sumber-sumber keuangan baru tidak bertentangan dengan undang-undang. Ada subsidi besar pemerintah ke daerah, ada proyek besar. Masalahnya masih kurang dari segi volume dan sasarannya tidak pas.

Ini karena pemerintah daerah tidak punya visi jangka panjang?

Tidak punya. Di samping terbatasnya anggaran, juga kepentingannya adalah kepentingannya. Tidak ada kepala daerah berpikir buat proyek untuk kemaslahatan masyarakat jangkauannya melebihi lima tahun. Dia ingin hasil kerjanya langsung ketahuan dalam lima tahun karena dia ingin dipilih kembali.

Hasil musyarawah rencana pembangunan (musrenbang) tidak bisa dilaksanakan?

Itu tidak ada pengaruhnya secara signifikan. Musrenbang hanya menampung aspirasi. Tapi kemudian akan terkendala inplementasinya pada dua hal: anggaran terbatas dan kepentingan pengambil keputusan.

Masyarakat mengusulkan yang diinginkan masyarakat, tapi pengambil keputusan memutuskan yang ada dampaknya pada keterpilihan buat periode berikutnya. Yang diutamakan yang bisa membuat masyarakat memilih dia kembali.

Biodata

Pemilihan langsung hasilkan pemimpin daerah payah 
Nama:
Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid

Tempat dan Tanggal Lahir:
Gowa, Sulawesi Selatan, 17 Desember 1949

Pekerjaan:
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2010-sekarang)
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Persatuan Nasional (2000-2001)
Pendiri Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (2002)
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) 2005-2008.
Sumber: Merdeka.com

Baca lainnya:
Ryaas : Pilkada Langsung Hambat Sasaran Otonomi Daerah
Ryaas : Ruh Otonomi Daerah Telah Hilang
FPKB: Pilkada Langsung Bakal Datangkan Kerusakan
Mahfud MD: Kembalikan Pilkada ke DPRD
Pengamat: Perlu Ada Kebijakan Soal DPT
Ketua MPR: Otonomi Picu Desentralisasi Korupsi

Roy Suryo Marah Lagi di Dalam Pesawat

TEMPO.CO, Jakarta - Roy Suryo kembali membuat ulah di pesawat, kali ini dalam penerbangan Garuda Indonesia dari Yogyakarta ke Jakarta, pada Ahad 20 Oktober 2013 pagi. Insiden terjadi antara Menteri Pemuda dan Olah Raga itu dengan awak kabin Garuda.
Roy Suryo Marah Lagi di Dalam Pesawat
Roy Suryo Marah Lagi di Dalam Pesawat
Menurut sumber Tempo, waktu itu Menteri Roy dan keluarganya naik di kelas bisnis maskapai plat merah itu. Roy sendiri membawa sekitar enam tas ke kabin. Awak kabin yang melihat Roy membawa banyak tas memberi tahu bahwa Roy hanya bisa membawa dua tas, sesuai peraturan penerbangan. Namun Roy ngotot. "Ia meminta awak kabin itu untuk menunjukkan peraturannya," ujar seorang penumpang yang menjadi saksi mata peristiwa itu.
Menteri Roy akhirnya dihadapi oleh kepala kabin. Namun, Roy ngotot tetap bersama barangnya. Kepala kabin mengalah. Roy diminta meletakkan barangnya di kursi pesawat bisnis yang masih kosong. Kepala kabin juga meminta Roy mengikat tasnya dengan seatbelt, seperti penumpang.

Roy ketika dimintakan konfirmasi mengatakan, ini bukan urusan keluarga dan bagasi. "Masak saya mengurusi bagasi," kata Roy melalui pesan pendek ketika menjawab klarifikasi Tempo, Kamis 31 Oktober 2013. "Tidak ada masalah, kecuali ada yang berkata bohong."

Ini bukan insiden pertama Roy Suryo di pesawat terbang. Ketika masih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, pada Maret 2011, Roy membuat keributan saat akan naik pesawat Lion Air dari Bandara Soekarno Hatta tujuan Yogyakarta.
Namun waktu itu Roy terima salah. Ia turun dari pesawat. "Saya mohon maaf sudah mengganggu penerbangan anda," katanya sebelum turun. (Baca: Roy Suryo Diusir dari pesawat Lion Air)
Ini juga bukan insiden pertama yang dialami awak garuda. Dua hari lalu, Wakil Ketua Ombusdman RI, Azlaini Agus, disebut-sebut telah menampar petugas ground handling maskapai Garuda Indonesia Airlines, Yana Novia  (Baca: Azlani menampar petugas Garuda Indonesia) Yana adalah karyawan PT Gapura Angkasa Pekanbaru yang saat itu bertugas melayani penumpang Garuda. Kasusnya kini ditangani
ADITIA

Baca Lainnya: 
Azlaini tak kebal hukum

Rabu, 30 Oktober 2013

Mantan Muncikari Naik Haji

Mantan Muncikari Naik Haji
Seorang warga melintas di depan Wisma Madonna 10, yang masih tutup di kawasan Lokalisasi Dolly, Surabaya, Rabu (18/9). TEMPO/Fully Syafi
TEMPO.CO, Banyuwangi - Penampilan Komsatun sejak dua tahun terakhir ini tak pernah lepas dari penutup kepala. Pintu rumahnya pun lebih sering tertutup. Hanya toko kelontong di ruangan samping yang ia buka sejak pagi hingga malam. "Kalau ada pembeli, cukup memencet bel," kata perempuan 54 tahun ini.
 
Komsatun memang tampil lebih alim sejak pulang berhaji pada 2011 lalu. Sebelumnya, ia bernazar akan berhenti menjadi muncikari bila mampu naik haji. Alhasil, nazarnya terpenuhi. Ia tak lagi menampung perempuan seks komersial setelah resmi mendaftar naik haji tahun 2008.
Komsatun adalah satu dari tujuh muncikari di lokalisasi Sumber Loh, Banyuwangi, Jawa Timur, yang naik haji dari hasil pekerjaan menampung perempuan seks komersial. Setelah naik haji, beberapa muncikari memang meninggalkan lokalisasi. Tetapi Komsatun memilih tetap membuka warungnya di lokalisasi terbesar di Banyuwangi itu.

Perempuan kelahiran tahun 1959 ini mulai berkenalan dengan dunia prostitusi setelah ditinggal suaminya pada tahun 1980-an. Dia memulai pekerjaannya sebagai buruh cuci baju para PSK. Untuk menambah pendapatan, dia juga membuka warung untuk menjual angsle dan rujak.

Sedikit demi sedikit, Komsatun menyisihkan penghasilannya. Sekitar tahun 1995, dia akhirnya mampu mengontrak salah satu wisma dengan tiga kamar. Dia pun mulai menampung tiga PSK yang disebutnya anak buah itu. Kebanyakan PSK itu datang sendiri, ada pula yang diserahkan oleh perekrut. "Saya tak pilih-pilih, tua atau muda, cantik atau jelek saya terima," katanya.

Prostitusi DOLLY


TEMPO.CO, Surabaya- Tidak semua pekerja seks komersial di Gang Dolly, Surabaya, merasa diuntungkan dengan bekerja sebagai pemuas nafsu para lelaki hidung belang. Shinta (bukan nama sebenarnya), misalnya, meski sudah lima tahun jadi PSK, ia tak bisa keluar dari wisma karena diikat oleh muncikari yang mengasuhnya.

"Yang paling diuntungkan dari bisnis kenikmatan ini adalah muncikari dan pemilik wisma, Mas," kata salah seorang PSK penghuni wisma New Barbara, di Gang Dolly, kepada Tempo, Rabu, 9 Oktober 2013.

Seorang penjaga cafe keluar dari dalamkafe Monggo Mas, yang masih tutup di kawasan Lokalisasi Dolly, Surabaya, Rabu (18/9). Sejumlah wisma di kawasan lokalisasi terbesar di Indonesia ini memiliki nama-nama yang unik untuk menarik pelanggan. TEMPO/Fully Syafi
Menurut Sinta, setiap kali melayani tamu, dirinya hanya mendapatkan jatah 30 persen dari tarif yang ditetapkan oleh pengelola wisma. Sementara 60 persennya masuk ke kantong muncikari dan 10 persennya lagi dibagikan kepada calo atau makelar yang bertugas mencari pelanggan di depan wisma.

Dikatakan oleh Sinta, tarif untuk dirinya setiap jam Rp 200 ribu. Dari situ ia mengantongi uang cash dari setiap tamunya sebesar Rp 60 ribu. Tetapi uang itu juga harus ia keluarkan lagi untuk dibagikan kepada pembantu yang mencuci seprai dan baju-bajunya yang digunakan saat melayani tamu. "Jadi bersih untungku hanya Rp 40 ribuan," ujarnya.

Tak hanya itu, Sinta juga harus mengeluarkan uang untuk merawat kecantikan dan membeli jamu-jamuan agar dirinya tetap segar dan cantik. Setiap dua hari sekali minimal dirinya harus mengeluarkan uang Rp 20 ribu untuk membeli jamu tradisional guna merawat bagian vitalnya. "Kalau muncikari, kan, tinggal bayar sewa sama pemilik wisma saja, beres urusan," katanya.

Edsus Dolly...

Salah seorang calo di Dolly, Rian, mengatakan memang yang paling diuntungkan dari keberadaan Dolly adalah para muncikari dan pemilik wisma. "Kalau PSK-nya, sih, sama seperti kita-kita ini," ujarnya.

Karena keuntungan besar itulah, menurut Rian, para muncikari mengikat para anak asuhnya agar tidak bisa lari dari wisma. Caranya dengan memperketat aturan para PSK-nya agar tidak berkomunikasi dengan orang di luar lingkungan.

Para germo juga mengikat PSK-nya dengan membebani mereka utang-utang yang banyak. "Mau gimana lagi, namanya orang cari untung, ya, itu sah-sah saja mereka lakukan," kata Rian.

Seorang kasir di Wisma Jaya Indah, Slamet, mengatakan aliran uang dari bisnisnya juga dinikmati aparat pemerintah hingga level kelurahan. Kepada Tempo, Slamet menunjukkan kupon iuran bulanan berwarna hijau yang disetorkan ke RT dan RW setempat.

Lewat RW, ujarnya, uang itu terciprat ke level kelurahan. Setiap PSK wajib membayar iuran level RT sebesar Rp 3.000 dan level RW sebanyak Rp 100 ribu per wisma. Belum lagi iuran tenaga keamanan setiap harinya sebanyak Rp 30 ribu per wisma.

Semakin banyak PSK dalam satu wisma, iuran yang dibayarkan semakin mahal. Bosnya juga harus menyewa wisma dengan tarif Rp 15 juta per bulan. Bagi hasil antara germo dan PSK sebesar 60:40. Wismanya membanderol PSK seharga Rp 90 ribu per satu jam. Dari hasil itu, Rp 34 ribu masuk kantong PSK, Rp 13 ribu ke calo, dan sisanya jatah muncikari atau germo. Germo-lah yang mengatur soal pembayaran ke RT, RW, dan kelurahan. "Ini sewa, rata-rata pemilik wisma sewa. Setiap hari penghasilan wisma sekitar Rp 1 juta," ucap Slamet. Selengkapnya, baca edisi khusus Dolly.

ARIEF RIZQI HIDAYAT | DIANANTA P. SUMEDI

PSK Pinggiran Resah, 'Alumnus' Dolly Menyerbu

TEMPO.CO, Kediri--Rencana penutupan lokalisasi Dolly membuat para pekerja seks komersial (PSK) di daerah ketar-ketir. Para PSK Dolly yang diperkirakan hijrah ke lokalisasi pinggiran dikhawatirkan akan mengancam lahan mereka.
Sejumlah PSK yang ditemui Tempo di lokalisasi Semampir Kota Kediri menyatakan hal itu. Mereka mengaku sudah mendengar rencana penutupan Dolly tersebut dari rekan sesama PSK. "Sudah tahu, Dolly mau ditutup kan," kata seorang PSK penghuni Wisma Primadona Semampir dengan ketus, Selasa, 29 Oktober 2013.
PSK Pinggiran Resah, 'Alumnus' Dolly Menyerbu  
PSK Pinggiran Resah, 'Alumnus' Dolly Menyerbu

Perempuan berambut pendek ini mengaku tak ambil pusing dengan penutupan Dolly. Hanya saja dia berharap para "alumnus" Dolly tak akan menyerbu tempatnya bekerja. Saat ini saja jumlah PSK yang menghuni lokalisasi terbesar di Kota Kediri ini telah mencapai 180 PSK. Setiap hari mereka harus bersaing berebut perhatian pria hidung belang dengan sesama penghuni wisma.
Kekhawatiran para PSK ini juga disampaikan Sarji, Ketua Rukun Tetangga 27, Kelurahan Semampir yang sekaligus menjadi koordinator pemilik wisma. Menurut Sarji, di kalangan penghuni lokalisasi terdapat seleksi alam yang sangat ketat. Kehadiran penghuni baru yang lebih muda akan menjadi ancaman bagi PSK tua yang sudah lama berdiam di tempat itu. "Tak ada yang bisa menghalangi mereka masuk," kata Sarji.
Jika kehadiran PSK baru itu benar-benar menggeser popularitas PSK lama, mereka akan hijrah ke tempat lain yang lebih pinggir seperti Bolodewo dan Dadapan yang berada di kawasan Kabupaten Kediri. Di tempat ini mereka bisa lebih eksis karena hanya bersaing dengan PSK berumur. Demikian pula dengan PSK tua yang tergusur di tempat itu akan mencari lokalisasi lain yang lebih murah atau bahkan pinggiran jalan.
Lantas usia berapa seorang PSK dikategorikan berumur dan layak tereliminasi" Menurut Sarji saat ini PSK berusia 35 tahun sudah dicap sebagai PSK tua. Hal ini karena setiap saat jumlah PSK muda yang berusia 20-an tahun makin banyak.
Untuk mengantisipasi pergerakan lokalisasi Dolly ke Kediri, Sarji mengaku sudah menyiapkan tim kesehatan untuk memverifikasi mereka. Sebab dikhawatirkan mereka akan datang membawa penyakit dan menulari tamu atau PSK lain. Dengan jumlah wisma yang mencapai 70 unit, lokalisasi itu bisa menampung sekitar 250 PSK. Selebihnya, Sarji hanya akan memantau keberadaan mereka agar tetap bersaing dengan sehat. "Saya juga sering menasehati PSK tua agar mulai mencari pekerjaan lain," katanya.
HARI TRI WASONO

Baca lainnya: 
Keseringan, PSK Dolly Lupa Rasanya Orgasme
PSK di Dolly Mengaku Tidak Suka Pria Perkasa
Penggusuran Dolly Dinilai Tak Selesaikan Masalah  
Jumlah Wisma di Gang Dolly Semakin Menyusut  
Tarif Dolly Paling Mahal Rp 200 Ribu per Jam  
Cara Melanggengkan Bisnis Esek-esek di Dolly
Pemilik dan Pengelola Wisma juga Diamankan
Melongok Sumber Loh, Dolly-nya Banyuwangi
Persaingan Ketat, Muncikari Pakai Guna-guna
Pengurus Lokalisasi Minta Ganti Rugi hingga Pesangon PSK
Kasus Mucikari Cilik Segera Disidangkan
Murid Setor 'Kencleng' untuk Bayar Utang

Ketika Tempo 'Disuguhi' 10 PSK Sekaligus  
TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Yunus Husein mengaku terkejut dengan penangkapan pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Menurut dia, jaringan pejabat yang sering bermain di Ditjen Bea dan Cukai tergolong lebih rapi daripada Direktorat Jenderal Pajak.
Pejabat Bea Cukai Dinilai Lebih 'Sakti' dari Pajak  
Pejabat Bea Cukai Dinilai Lebih 'Sakti' dari Pajak
"Selama ini mereka memang cukup 'sakti'," ujar dia ketika dihubungi, Selasa, 29 Oktober 2013.
Yunus menuturkan, jaringan Ditjen Bea dan Cukai begitu kuat sehingga banyak Laporan Hasil Analisis PPATK yang menyebut pejabat dengan rekening gendut malah tak berlanjut ke proses hukum. "Sering kandas di tengah jalan," katanya.
Uang kartal

Pejabat Bea Cukai lebih 'rapi' dari Pajak

Penangkapan yang dilakukan Polri, kata dia, merupakan kemajuan signifikan dari upaya pembersihan di Ditjen Bea dan Cukai. Ia mengaku tak menduga Kepolisian bisa menindak Heru.
Sebelumnya, Kepolisian membenarkan telah menangkap pejabat Ditjen Bea dan Cukai Heru Sulastyono. Ia ditangkap bersama mobil mewahnya. Heru sebelumnya pernah menjabat Kepala P2 Bea Cukai Tanjung Priok. PPATK pernah memasukkan Heru ke dalam daftar pejabat dengan rekening tak sesuai profil pendapatan.
FEBRIANA FIRDAUS

Snowden: AS Miliki Fasilitas Penyadapan di Jakarta

TEMPO.CO, Canberra - Amerika Serikat menyadap telepon dan memonitor jaringan komunikasi dari fasilitas pengawasan elektronik di Kedutaan Besar AS dan konsulat di seluruh Asia timur dan tenggara. Soal ini diungkapkan oleh whistleblower Edward Snowden, seperti dimuat oleh Sidney Morning Herald edisi hari ini, Selasa, 29 Oktober 2013.
Snowden: AS Miliki Fasilitas Penyadapan di Jakarta
Snowden: AS Miliki Fasilitas Penyadapan di Jakarta
Sebuah peta rahasia yang berisi 90 daftar fasilitas pengintaian di seluruh dunia, termasuk fasilitas intelijen komunikasi di kedutaan besar di Jakarta, Kuala Lumpur, Bangkok, Phnom Penh dan Yangon. Pada 13 Agustus 2010, peta itu tidak menunjukkan fasilitas tersebut berada di Australia, Selandia Baru, Inggris, Jepang dan Singapura --negara yang dikenal sebagai sekutu terdekat AS.
Australia sepenuhnya menyadari luasnya spionase elektronik Amerika Serikat melawan tetangga dan mitra dagangnya. Selain itu, Negara Kanguru ini memiliki akses ke banyak data yang dikumpulkan oleh program itu.
Menurut peta yang diterbitkan oleh majalah Der Spiegel Jerman pada hari Selasa, 29 Oktober 2013, satuan tugas bersama dinas intelijen AS, Central Intelligence Agency (CIA) dan National Security Agency (NSA) bernama "Special Collection Service" melakukan sweeping operasi pengawasan serta operasi rahasia terhadap target intelijen khusus.
Peta itu awalnya dipublikasikan secara penuh di website Der Spiegel, tetapi kemudian diganti dengan versi yang disensor. Dalam peta itu terdapat daftar fasilitas Special Collection Service di 90 lokasi di seluruh dunia, termasuk 74 fasilitas yang dioperasikan oleh manusia, 14 fasilitas dioperasikan dari jarak jauh, dan dua pusat dukungan teknis.
Dikeluarkan hanya untuk "FVEY"--sandi untuk Five Eye, empat mitra strategis intelijen Amerika Serikat, termasuk Australia--peta itu mengungkap fasilitas operasi tersembunyi AS di kedutaannya di Jakarta, Kuala Lumpur, Bangkok, Phnom Penh dan Yangon.
SIDNEY MORNING HERALD | ABDUL MANAN 

Baca lainya: 
Parlemen Inggris Selidiki Pengintaian Elektronik
AS Awasi Ponsel Kanselir Jerman Sejak 2002  
Juru Bicara: Kedubes AS di Jakarta Tetap Buka
NSA Terlibat Jauh dalam Program Serangan Drone CIA  
Lewat Operasi TAO, NSA Mata-matai Presiden Meksiko  
Direktur NSA Keith Alexander Akan Mundur Awal 2014  
Inggris Lobi New York Times Soal File Snowden
Dokumen Snowden dan Reaksi Parlemen Inggris
Parlemen Inggris Selidiki Pengintaian Elektronik
PM Inggris Minta Parlemen Mengusut Guardian
Direktur NSA Keith Alexander Akan Mundur Awal 2014  
NSA Terlibat Jauh dalam Program Serangan Drone CIA  
Lewat Operasi TAO, NSA Mata-matai Presiden Meksiko  
Diam-diam Snowden Bertemu Empat Mantan Anggota CIA

Menyadap lewat ponsel